Jakarta, 21 September 2026 – Kondisi kulit Jiwoo, salah satu anggota girl group Korea Selatan Hearts2Hearts, menjadi perhatian penggemar setelah muncul pembahasan mengenai eksim yang dialaminya. Keluhan tersebut sekaligus membuat dermatitis atopik kembali menjadi topik yang banyak dibicarakan. Dermatitis atopik merupakan salah satu bentuk eksim yang menyebabkan peradangan pada kulit dan dapat berlangsung dalam jangka panjang. Kondisi ini umumnya ditandai dengan kulit kering, kemerahan, rasa gatal, hingga kulit yang pecah-pecah. Tingkat keparahannya dapat berbeda pada setiap orang dan gejalanya bisa datang serta menghilang dalam periode tertentu. Karena itu, kondisi kulit yang tampak ringan sekalipun tetap perlu mendapatkan perhatian apabila terus berulang.
Dermatitis atopik merupakan penyakit inflamasi kulit kronis yang berkaitan dengan gangguan fungsi pelindung kulit dan respons sistem imun. Ketika lapisan pelindung kulit tidak bekerja secara optimal, kelembapan lebih mudah hilang dan berbagai zat dari lingkungan dapat lebih mudah memicu iritasi. Kondisi tersebut membuat kulit menjadi kering dan sensitif. Rasa gatal kemudian dapat memicu kebiasaan menggaruk yang justru semakin merusak lapisan kulit. Siklus gatal dan garukan inilah yang kerap membuat dermatitis atopik sulit dikendalikan ketika sedang kambuh. Pada sebagian orang, penyakit tersebut dapat bertahan selama bertahun-tahun meskipun intensitas gejalanya berubah dari waktu ke waktu.
Gejala dermatitis atopik tidak selalu sama pada setiap penderita. Selain rasa gatal, kulit dapat terlihat kemerahan atau mengalami perubahan warna, bersisik, kasar, menebal, dan pecah-pecah. Pada kondisi tertentu juga dapat muncul benjolan kecil yang mengeluarkan cairan ketika digaruk. Area lipatan seperti siku dan belakang lutut termasuk bagian tubuh yang sering mengalami keluhan, meskipun dermatitis atopik pada dasarnya dapat muncul di berbagai permukaan kulit. Rasa gatal juga dapat menjadi lebih berat pada malam hari sehingga berpotensi mengganggu kualitas tidur. Garukan berlebihan perlu dihindari karena dapat menimbulkan luka dan meningkatkan risiko terjadinya infeksi sekunder.
Ada sejumlah faktor yang dapat memicu atau memperburuk dermatitis atopik. Kulit yang terlalu kering, perubahan suhu, udara dengan kelembapan rendah, keringat, stres, hingga paparan bahan tertentu dapat memengaruhi munculnya keluhan. Sabun, deterjen, parfum, dan produk perawatan kulit tertentu juga dapat menjadi iritan bagi sebagian penderita. Namun, pemicu antara satu orang dan lainnya tidak selalu sama sehingga penting mengenali pola kambuh masing-masing. Pada sebagian penderita, kondisi alergi lain juga dapat ditemukan bersamaan dengan dermatitis atopik. Faktor genetik dan lingkungan turut berperan sehingga penyakit ini tidak dapat dijelaskan hanya oleh satu penyebab.
Dokter biasanya menegakkan diagnosis dermatitis atopik berdasarkan kondisi kulit, pola gejala, serta riwayat medis pasien. Tidak semua kulit kering dan gatal otomatis merupakan dermatitis atopik karena terdapat berbagai penyakit kulit yang dapat memberikan keluhan serupa. Pemeriksaan diperlukan terutama ketika ruam berlangsung lama, sering kambuh, semakin luas, atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Riwayat alergi pada pasien maupun keluarga juga dapat menjadi bagian dari informasi yang dipertimbangkan dokter. Pemeriksaan tambahan dapat dilakukan dalam kondisi tertentu apabila diperlukan untuk membedakan dermatitis atopik dengan gangguan kulit lainnya. Karena itu, diagnosis sebaiknya tidak hanya berdasarkan penampilan ruam dari foto atau video.
Perawatan dermatitis atopik umumnya diarahkan untuk mengurangi gejala, menjaga kelembapan kulit, mengendalikan peradangan, dan mencegah kekambuhan. Penggunaan pelembap secara rutin merupakan salah satu bagian penting karena membantu mempertahankan fungsi lapisan pelindung kulit. Penderita juga perlu mengenali dan mengurangi paparan terhadap faktor yang diketahui memicu keluhan. Untuk kondisi tertentu, dokter dapat memberikan obat topikal maupun terapi lainnya sesuai tingkat keparahan penyakit. Pilihan terapi tidak selalu sama untuk setiap pasien sehingga penggunaan obat sebaiknya mengikuti pemeriksaan dan rekomendasi tenaga medis. Perawatan yang konsisten tetap diperlukan meskipun kondisi kulit sedang terlihat lebih baik.
Aktivitas yang padat juga dapat menjadi tantangan bagi seseorang dengan kulit sensitif atau dermatitis atopik. Dalam industri hiburan seperti K-pop, penggunaan riasan, pergantian produk kosmetik, kostum, paparan keringat, perjalanan antarkota atau negara, serta perubahan cuaca dapat menjadi faktor lingkungan yang perlu diperhatikan. Namun, tidak berarti faktor-faktor tersebut secara otomatis menjadi penyebab eksim pada Jiwoo. Pemicu spesifik hanya dapat diketahui berdasarkan kondisi individu dan evaluasi medis yang tepat. Produk yang aman bagi satu orang juga belum tentu memberikan reaksi sama pada orang lain. Karena itu, perawatan kulit bagi penderita dermatitis atopik biasanya perlu disesuaikan dengan karakter kulit dan faktor pencetus masing-masing.
Dermatitis atopik sendiri bukan penyakit menular sehingga tidak dapat berpindah kepada orang lain melalui sentuhan atau aktivitas bersama. Kesalahpahaman mengenai kondisi kulit terkadang membuat penderita menghadapi perhatian berlebihan ketika ruam terlihat jelas. Padahal, fokus utama seharusnya berada pada pengendalian gejala dan menjaga kondisi kulit agar tidak semakin meradang. Menghindari garukan, menjaga kelembapan, dan menggunakan produk yang sesuai dengan kondisi kulit dapat membantu dalam perawatan sehari-hari. Apabila muncul luka bernanah, nyeri, demam, ruam yang menyebar dengan cepat, atau gangguan tidur berat akibat rasa gatal, pemeriksaan medis perlu dilakukan. Penanganan sejak dini dapat membantu mengurangi risiko komplikasi akibat kerusakan kulit maupun infeksi.
Perhatian terhadap kondisi Jiwoo Hearts2Hearts pada akhirnya turut membuka pembahasan lebih luas mengenai dermatitis atopik yang dapat dialami anak-anak maupun orang dewasa. Eksim bukan sekadar persoalan penampilan kulit karena rasa gatal dan kekambuhan dapat memengaruhi kenyamanan hingga aktivitas sehari-hari. Meskipun belum ada pendekatan tunggal yang cocok bagi seluruh penderita, gejala umumnya dapat dikendalikan melalui perawatan kulit, penghindaran faktor pencetus, dan terapi medis ketika diperlukan. Mengenali karakteristik penyakit menjadi langkah penting agar penderita tidak sembarangan menggunakan produk atau obat untuk mengatasi keluhan. Untuk Jiwoo sendiri, informasi mengenai diagnosis, tingkat keparahan, maupun penanganan medisnya sebaiknya tidak disimpulkan melebihi keterangan yang telah disampaikan secara terbuka. Kondisi setiap penderita dermatitis atopik berbeda sehingga pemeriksaan profesional tetap menjadi dasar dalam menentukan penanganan yang sesuai.