Ponorogo, 18 September 2026 – Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal menyampaikan pidato yang diselingi guyonan saat Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Dalam sambutannya, Kiai Hasan berbicara mengenai pendidikan, sejarah hingga fenomena orang yang gemar “cari muka”. Ia menggunakan sejumlah perumpamaan tentang orang yang mencari sesuatu yang belum dimiliki, mulai dari ijazah, nama, uang hingga jabatan. Pernyataan tersebut disambut tawa dan tepuk tangan para hadirin. Kiai Hasan tidak menyebut nama maupun mengarahkan pernyataan tersebut kepada pejabat atau kelompok tertentu. Pidatonya kemudian kembali menekankan posisi pendidikan sebagai jalan yang dipilih Gontor dalam memberikan kontribusi bagi bangsa.
Kiai Hasan membuka bagian pidatonya dengan menyampaikan bahwa Gontor tetap memilih pendidikan sebagai jalur pengabdian. Sebelum melanjutkan pembicaraan, ia sempat mengatakan kepada Prabowo bahwa dirinya akan menyampaikan sesuatu yang mungkin terdengar kurang nyaman. Kiai Hasan kemudian melontarkan ungkapan “sorry yee” yang membuat suasana acara menjadi lebih cair. Setelah itu, ia menyinggung pesan Presiden pertama RI Soekarno mengenai pentingnya tidak melupakan sejarah. Menurut Kiai Hasan, Gontor tidak cukup hanya mengingat atau belajar dari sejarah. Ia menekankan pentingnya menyikapi sejarah secara cerdas karena generasi sekarang juga memiliki tanggung jawab membangun sejarah dan peradaban baru.
Pembicaraan kemudian beralih kepada cerita Kiai Hasan mengenai penantiannya terhadap kedatangan Prabowo ke Gontor. Ia mengatakan telah memikirkan kehadiran Presiden setelah sebelumnya memperoleh informasi bahwa Prabowo akan datang pada September. Kiai Hasan berseloroh bahwa apabila Prabowo ternyata tidak hadir, dirinya akan kebingungan menaruh muka di hadapan para santri dan undangan. Dari cerita tersebut, ia kemudian masuk pada pembahasan mengenai istilah “cari muka”. Kiai Hasan menyebut fenomena itu banyak terjadi di masyarakat dengan berbagai bentuk. Guyonan tersebut menjadi salah satu bagian pidato yang paling banyak mendapatkan respons dari hadirin.
Dalam penjelasannya, Kiai Hasan menyebut orang yang tidak mempunyai ijazah akan mencari ijazah, sementara orang yang belum memiliki nama akan mencari nama. Ia kemudian melanjutkan perumpamaan mengenai orang yang mencari uang dan jabatan karena belum memilikinya. Pada bagian terakhir, ia kembali memainkan istilah “cari muka” yang sebelumnya digunakan ketika menceritakan kemungkinan Prabowo tidak menghadiri acara. Tepuk tangan kemudian terdengar dari peserta yang mengikuti acara tersebut. Kiai Hasan kembali merespons suasana itu dengan guyonan dan mengatakan tepuk tangan diberikan tidak pada waktunya. Ia sekali lagi menggunakan ungkapan “sorry” yang membuat suasana pidato berlangsung santai.
Di bagian lain sambutannya, Kiai Hasan menjelaskan karakter Gontor sebagai lembaga pendidikan yang menerima santri dari beragam latar belakang organisasi Islam. Ia mencontohkan santri yang berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah dapat belajar bersama tanpa harus meninggalkan latar belakang masing-masing. Setelah menyelesaikan pendidikan, para alumni dapat kembali berkiprah dalam organisasi dan lingkungan masyarakatnya. Menurutnya, keberagaman tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan panjang Gontor sejak masa pendiriannya. Ia juga menekankan nilai iman, Islam dan ihsan sebagai bagian dari prinsip pendidikan pesantren. Pendidikan ditempatkan sebagai sarana membentuk manusia yang mampu memberikan pengabdian kepada masyarakat.
Peringatan satu abad Gontor menjadi momentum bagi pesantren tersebut untuk menegaskan kembali perjalanan dan prinsip pendidikannya. Kehadiran Prabowo menjadi bagian dari rangkaian acara yang diikuti santri, alumni, pengasuh serta sejumlah pejabat. Dalam kesempatan yang sama, Kiai Hasan menekankan bahwa sejarah tidak hanya perlu dikenang, tetapi juga harus menjadi dasar untuk membangun masa depan. Guyonan mengenai pencari ijazah, nama, uang, jabatan hingga “cari muka” menjadi selingan dalam pesan yang lebih luas mengenai pendidikan dan pengabdian. Tidak ada pihak tertentu yang disebut sebagai sasaran dari perumpamaan tersebut. Melalui pidatonya, Kiai Hasan menempatkan pendidikan dan pembentukan karakter sebagai pesan utama dalam perjalanan Gontor memasuki abad keduanya.