Muara Enim, 7 September 2026 – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan mengintensifkan penanganan kebakaran hutan dan lahan di Desa Teluk Limau, Kecamatan Gelumbang, Kabupaten Muara Enim. Kawasan yang terbakar didominasi lahan gambut dengan luas area terdampak diperkirakan mencapai sekitar 80 hektare. Penanganan dilakukan melalui Operasi Aman Nusa II dengan mengerahkan personel gabungan untuk melakukan patroli, pemadaman, hingga pemeriksaan terhadap titik bara yang masih tersimpan di bawah permukaan tanah. Karakter lahan gambut membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan khusus karena api dapat tetap hidup meskipun kobaran di permukaan sudah tidak terlihat. Petugas karena itu tidak hanya berupaya memadamkan api, tetapi juga memastikan bara tidak merambat menuju kawasan lain. Operasi dilakukan secara bertahap sejak Sabtu, 5 September 2026, dan dilanjutkan hingga malam hari. Pemantauan tetap dilakukan setelah pemadaman untuk mencegah kebakaran kembali muncul.
Penanganan di lapangan dipimpin Dansatbrimob Polda Sumsel Kombes Pol James Parlindungan Hutagaol bersama personel yang tergabung dalam Satgas Penanganan Karhutla. Kondisi gambut di lokasi diperkirakan memiliki kedalaman sekitar satu hingga satu setengah meter. Lapisan tersebut memungkinkan bara bertahan di bawah tanah dan bergerak tanpa selalu menghasilkan kobaran api yang terlihat dari permukaan. Situasi itu menjadi tantangan utama karena lokasi yang terlihat padam masih dapat kembali mengeluarkan asap maupun api. Personel harus memeriksa setiap bagian secara lebih teliti sebelum suatu kawasan dapat dinyatakan aman. Angin dan kondisi lahan yang kering juga dapat memperbesar kemungkinan bara menyebar ke vegetasi di sekitarnya. Karena itu, proses pemadaman dilakukan dengan metode yang disesuaikan dengan karakter kebakaran gambut.
Salah satu teknik yang diterapkan adalah pemadaman menggunakan pola spiral dari bagian luar menuju pusat area kebakaran. Penyiraman dilakukan menggunakan jet pump dengan campuran air dan cairan pemadam untuk membantu proses pembasahan lapisan gambut. Pola tersebut bertujuan membatasi pergerakan bara sebelum petugas bergerak semakin dekat menuju bagian dengan aktivitas panas lebih tinggi. Dengan memulai dari sisi luar, tim berusaha membentuk kawasan yang telah dibasahi sehingga penjalaran api dapat ditekan. Air kemudian dibiarkan meresap hingga mencapai bagian gambut yang menyimpan panas di bawah permukaan. Proses perendaman membutuhkan waktu karena karakter gambut berbeda dibandingkan tanah mineral biasa. Pendekatan tersebut diharapkan dapat mengurangi kemungkinan api kembali berkembang setelah kobaran utama berhasil dipadamkan.
Setelah proses penyiraman dan perendaman, petugas memberikan waktu sekitar dua hingga tiga jam agar cairan dapat meresap lebih dalam. Tahapan berikutnya dilakukan dengan metode scanning untuk mencari sisa bara yang masih berpotensi memicu kebakaran baru. Personel bergerak mendekati lokasi yang ditandai dengan munculnya asap putih maupun tanda panas lainnya. Lapisan gambut kemudian diurai menggunakan peralatan seperti garpu agar bagian yang masih menyimpan bara dapat terlihat dan dijangkau. Titik tersebut selanjutnya disiram kembali menggunakan jet shooter backpack yang dibawa personel. Pemeriksaan dilakukan satu per satu karena bara berukuran kecil sekalipun masih dapat menjadi sumber kebakaran. Apabila terbawa angin atau bersentuhan dengan vegetasi kering, bara dapat memunculkan api baru di area yang sebelumnya belum terbakar.
Untuk membuat operasi lebih terukur, kawasan terdampak sekitar 80 hektare dipetakan berdasarkan tingkat aktivitas kebakaran. Petugas membaginya menjadi zona kuning, oranye, dan merah sesuai kondisi yang ditemukan di lapangan. Zona kuning digunakan untuk kawasan yang memperlihatkan indikator asap, sedangkan zona oranye menunjukkan keberadaan asap sekaligus bara. Sementara zona merah merupakan kawasan yang memperlihatkan asap, bara, dan kobaran api hingga permukaan. Masing-masing klaster kemudian dibagi lagi menjadi empat sektor agar penanganan dapat dilakukan secara lebih sistematis. Setiap sektor memiliki personel yang bertanggung jawab memantau perkembangan pemadaman dan melaporkan kondisi terbaru. Pembagian tersebut membantu tim mengetahui kawasan yang telah berhasil ditangani dan lokasi yang masih membutuhkan penyiraman tambahan.
Pemadaman juga dilanjutkan pada malam hari karena kondisi gelap memberikan keuntungan tertentu bagi petugas ketika mencari bara. Cahaya dari bara yang tersimpan di sela permukaan gambut dapat terlihat lebih jelas sehingga titik panas lebih mudah diidentifikasi. Meski demikian, pekerjaan malam hari tetap membutuhkan kehati-hatian karena medan yang terbakar dapat mengalami perubahan struktur dan tidak selalu mudah dilalui. Personel harus memastikan keselamatan selama bergerak membawa peralatan pemadaman di kawasan gambut. Setiap titik yang masih memperlihatkan aktivitas panas ditangani sampai kemungkinan api kembali muncul dapat ditekan. Polda Sumsel menegaskan operasi tidak berhenti hanya karena kobaran besar sudah tidak terlihat. Pemadaman baru dapat dianggap tuntas setelah pemeriksaan menunjukkan kawasan aman dari sisa bara yang berpotensi berkembang kembali.
Polda Sumsel juga memperkuat kesiapan personel melalui Operasi Aman Nusa II 2026 untuk menghadapi peningkatan risiko karhutla. Sebanyak 1.000 personel gabungan telah disiapkan untuk mendukung penanganan kebakaran di kawasan Muara Enim dan wilayah lain yang membutuhkan bantuan. Personel mendapatkan pembekalan teknis sebelum diterjunkan sehingga memahami pola pemadaman yang sesuai dengan kondisi lahan gambut. Kesiapan peralatan menjadi bagian penting karena operasi membutuhkan pompa air, selang, perlengkapan individu, serta sarana pendukung lainnya. Penguatan personel memungkinkan penanganan dilakukan secara bergantian apabila pemadaman berlangsung dalam waktu panjang. Kondisi kebakaran gambut memang dapat membutuhkan proses berhari-hari apabila bara telah masuk cukup dalam. Dukungan personel yang memadai juga diperlukan untuk melakukan patroli setelah titik api utama berhasil dikendalikan.
Selain pemadaman, personel gabungan melakukan patroli dan menyampaikan imbauan kepada masyarakat di sekitar kawasan rawan. Polda Sumsel meminta warga maupun perusahaan tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Praktik pembakaran pada musim kering dapat berkembang dengan cepat ketika api memasuki kawasan gambut. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, atau tanda-tanda kebakaran kepada aparat maupun posko karhutla terdekat. Laporan sejak awal memungkinkan petugas bergerak sebelum kebakaran berkembang menjadi lebih luas dan sulit dikendalikan. Pencegahan dinilai sama pentingnya dengan pemadaman karena sumber daya yang dibutuhkan akan semakin besar ketika api sudah menyebar. Keterlibatan masyarakat karena itu menjadi bagian penting dalam sistem pengendalian karhutla di Sumatera Selatan.
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Nandang Mu’min Wijaya menekankan penanganan kebakaran gambut tidak cukup dilakukan dengan menghilangkan api yang tampak di permukaan. Bara yang masih tersimpan di bawah lapisan tanah harus menjadi perhatian karena dapat kembali menghasilkan kebakaran setelah beberapa waktu. Pendekatan berlapis melalui penyiraman, perendaman, dan scanning diterapkan untuk mengatasi karakter tersebut. Polda Sumsel bersama unsur terkait akan terus mengoptimalkan personel serta sarana dan prasarana yang tersedia. Evaluasi dilakukan berdasarkan perkembangan setiap sektor yang telah dipetakan sebelumnya. Apabila masih ditemukan asap atau bara, petugas akan kembali melakukan pembasahan sampai kondisi dianggap aman. Langkah tersebut diperlukan untuk mencegah area yang telah ditangani kembali terbakar dan memperluas dampak karhutla.
Penanganan di Teluk Limau akan terus dilakukan sampai seluruh area terdampak dinyatakan tidak lagi memiliki api maupun bara aktif. Polda Sumsel menempatkan pencegahan kebakaran meluas sebagai prioritas karena karhutla gambut dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan membutuhkan waktu panjang untuk dipadamkan. Operasi Aman Nusa II menjadi wadah koordinasi personel dalam melakukan pemadaman sekaligus patroli di kawasan rawan. Pemeriksaan berulang terhadap titik yang sebelumnya terbakar tetap diperlukan meskipun kondisi permukaan sudah terlihat aman. Masyarakat sekitar juga diminta membantu dengan tidak melakukan pembakaran dan segera menyampaikan informasi apabila menemukan tanda kebakaran baru. Penanganan yang cepat diharapkan dapat membatasi luas area terdampak sekaligus mengurangi risiko kabut asap. Selama kondisi kemarau masih meningkatkan kerawanan kebakaran, kesiapsiagaan personel di Muara Enim dan wilayah Sumatera Selatan lainnya akan terus dipertahankan.