Jakarta, 5 September 2026 – Pemerintah Amerika Serikat menyetujui kemungkinan penjualan bom berpemandu dan berbagai peralatan militer kepada Arab Saudi dengan nilai sekitar 5 miliar dolar AS atau setara kurang lebih Rp88 triliun. Persetujuan tersebut diumumkan Departemen Luar Negeri AS pada Jumat, 4 September 2026, sebagai bagian dari kerja sama pertahanan Washington dan Riyadh. Paket utama mencakup Joint Direct Attack Munition-Extended Range atau JDAM-ER beserta perangkat pemandu dan berbagai perlengkapan pendukungnya. Pemerintah AS menyatakan penjualan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Arab Saudi menghadapi ancaman keamanan regional yang berkembang. Washington juga menempatkan Riyadh sebagai salah satu mitra keamanan pentingnya di kawasan Teluk. Meski telah mendapat persetujuan Departemen Luar Negeri, transaksi tersebut masih harus melewati tahapan pemberitahuan dan proses yang berlaku di Kongres AS sebelum kontrak akhir dapat direalisasikan.
Paket senilai sekitar 5 miliar dolar AS tersebut mencakup ribuan bom dan lebih dari 10 ribu perangkat pemandu presisi yang akan memperkuat kemampuan persenjataan udara Arab Saudi. Teknologi JDAM pada dasarnya memungkinkan bom konvensional diubah menjadi amunisi berpemandu presisi dengan menggunakan perangkat navigasi dan sistem pemandu. Varian dengan jangkauan diperpanjang memberikan kemampuan bagi pesawat untuk melepaskan munisi dari jarak yang lebih jauh dibandingkan bom konvensional. Selain perangkat utama, paket tersebut mencakup dukungan logistik, komponen pendukung, serta kebutuhan lain yang berkaitan dengan pengoperasian sistem. Boeing ditetapkan sebagai kontraktor utama dalam rencana penjualan JDAM-ER tersebut. Nilai transaksi yang diumumkan merupakan perkiraan maksimum sehingga nilai kontrak akhir masih dapat berubah setelah proses negosiasi selesai.
Departemen Luar Negeri AS menilai penjualan tersebut akan meningkatkan kemampuan Arab Saudi menghadapi ancaman regional saat ini maupun pada masa mendatang. Washington menyebut peningkatan kemampuan pertahanan Riyadh penting karena Arab Saudi merupakan mitra strategis dan berstatus sekutu utama non-NATO Amerika Serikat. Peralatan yang direncanakan dijual juga diharapkan meningkatkan interoperabilitas antara angkatan bersenjata Arab Saudi dengan militer AS dan negara mitra lainnya di kawasan Teluk. Pemerintah AS menilai Riyadh memiliki kemampuan untuk menerima dan mengoperasikan sistem persenjataan tersebut tanpa menimbulkan kesulitan besar dalam struktur militernya. Penjualan juga disebut tidak akan mengubah keseimbangan militer dasar di kawasan secara signifikan. Namun, transaksi dalam jumlah besar tersebut tetap berpotensi menjadi perhatian karena berlangsung ketika situasi keamanan Timur Tengah masih menghadapi ketegangan tinggi.
Selain paket bom berpemandu senilai sekitar 5 miliar dolar AS, Departemen Luar Negeri AS pada saat yang sama menyetujui kemungkinan penjualan mesin AGT-1500 kepada Arab Saudi. Nilai paket mesin tersebut diperkirakan mencapai 750 juta dolar AS dengan Honeywell sebagai kontraktor utama. Mesin AGT-1500 dikenal digunakan pada kendaraan tempur berat dan menjadi bagian dari kebutuhan pemeliharaan serta kesiapan sistem pertahanan darat. Dengan demikian, total persetujuan terbaru yang diumumkan Washington untuk Riyadh mencapai sekitar 5,75 miliar dolar AS apabila kedua paket dihitung bersama. Kedua transaksi merupakan bagian terpisah dan masing-masing masih harus mengikuti prosedur penjualan militer luar negeri Amerika Serikat. Persetujuan tersebut menunjukkan hubungan pertahanan kedua negara tetap menjadi salah satu komponen penting dalam kemitraan strategis Washington dan Riyadh.
Rencana penjualan terbaru muncul di tengah meningkatnya kebutuhan Arab Saudi memperkuat pertahanan terhadap ancaman rudal, pesawat nirawak, dan serangan lain yang berkembang di kawasan. Ketegangan regional meningkat sejak konflik dengan Iran kembali memanas pada 2026 dan memengaruhi situasi keamanan sejumlah negara Teluk. Arab Saudi memiliki kepentingan besar menjaga fasilitas energi, kota-kota utama, pangkalan militer, serta infrastruktur strategis dari kemungkinan serangan. Riyadh sebelumnya juga menghadapi ancaman dari kelompok Houthi di Yaman yang memiliki kemampuan rudal dan pesawat nirawak. Situasi tersebut membuat penguatan pertahanan udara dan kemampuan serangan presisi menjadi bagian penting dari modernisasi militer kerajaan. Washington memandang dukungan terhadap kemampuan pertahanan Saudi sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas keamanan regional dan melindungi mitra strategisnya.
Persetujuan senilai 5 miliar dolar AS tersebut bukan menjadi satu-satunya paket pertahanan besar antara Washington dan Riyadh sepanjang 2026. Pada Januari lalu, Amerika Serikat telah menyetujui kemungkinan penjualan rudal Patriot Advanced Capability-3 Missile Segment Enhancement beserta perlengkapan terkait dengan nilai sekitar 9 miliar dolar AS. Beberapa hari kemudian, Washington juga menyetujui paket pemeliharaan dan dukungan armada pesawat tempur F-15 Arab Saudi senilai sekitar 3 miliar dolar AS. Pada pertengahan tahun, persetujuan lain mencakup Advanced Precision Kill Weapon System II dengan nilai sekitar 1,96 miliar dolar AS. Rangkaian transaksi tersebut memperlihatkan besarnya investasi Arab Saudi dalam memperkuat sistem pertahanan udara, kemampuan pesawat tempur, serta persenjataan presisi. Kerja sama itu sekaligus memperlihatkan posisi industri pertahanan Amerika Serikat sebagai salah satu pemasok utama kebutuhan militer Saudi.
Hubungan pertahanan Amerika Serikat dan Arab Saudi telah berlangsung selama beberapa dekade dan menjadi bagian penting dalam hubungan kedua negara. Riyadh mengoperasikan berbagai sistem buatan Amerika, mulai dari pesawat tempur F-15 hingga sistem pertahanan udara Patriot dan berbagai kendaraan tempur. Ketergantungan pada teknologi AS membuat kerja sama tidak hanya berlangsung melalui pembelian persenjataan, tetapi juga pemeliharaan, pelatihan, suku cadang, dan dukungan teknis jangka panjang. Bagi Washington, hubungan tersebut memberikan pengaruh strategis di kawasan Teluk sekaligus mendukung industri pertahanan domestiknya. Bagi Arab Saudi, akses terhadap teknologi militer AS menjadi bagian dari strategi modernisasi angkatan bersenjata menghadapi perubahan karakter ancaman regional. Kedua negara juga terus memperluas koordinasi keamanan di tengah perubahan konfigurasi politik dan pertahanan di Timur Tengah.
Meski Departemen Luar Negeri telah memberikan persetujuan, rencana penjualan tersebut belum berarti seluruh persenjataan langsung dikirim kepada Arab Saudi. Dalam mekanisme Foreign Military Sales Amerika Serikat, persetujuan pemerintah merupakan salah satu tahap sebelum transaksi memasuki proses berikutnya. Kongres memiliki kewenangan melakukan peninjauan dan dapat menyampaikan keberatan terhadap penjualan senjata tertentu sesuai mekanisme hukum yang berlaku. Setelah proses tersebut selesai, pemerintah pembeli dan kontraktor masih harus menyelesaikan negosiasi mengenai jumlah akhir, konfigurasi peralatan, jadwal pengiriman, serta nilai kontrak sebenarnya. Karena itu, angka 5 miliar dolar AS merupakan nilai estimasi dan belum tentu menjadi nilai akhir transaksi. Pengiriman peralatan juga dapat berlangsung secara bertahap dalam beberapa tahun sesuai kesiapan produksi dan kebutuhan militer Arab Saudi.
Penjualan senjata kepada Arab Saudi selama ini juga menjadi bahan perdebatan di Amerika Serikat, terutama berkaitan dengan penggunaan persenjataan dalam konflik regional dan persoalan perlindungan warga sipil. Sebagian anggota Kongres sebelumnya meminta pengawasan lebih ketat terhadap transfer senjata agar penggunaannya sesuai dengan ketentuan hukum Amerika dan hukum internasional. Pemerintah AS pada sisi lain mempertahankan pandangan bahwa dukungan militer terhadap Arab Saudi diperlukan untuk menghadapi ancaman keamanan yang berkembang di Timur Tengah. Persenjataan berpemandu presisi juga dipandang memiliki kemampuan memberikan akurasi lebih tinggi dibandingkan bom tanpa sistem pemandu. Namun, penggunaan setiap persenjataan tetap bergantung pada keputusan operasional dan kepatuhan terhadap aturan yang berlaku. Perdebatan tersebut kemungkinan kembali muncul ketika Kongres melakukan peninjauan terhadap paket penjualan terbaru.
Persetujuan penjualan bom dan perlengkapan militer senilai sekitar Rp88 triliun memperlihatkan semakin eratnya kerja sama pertahanan Washington dan Riyadh di tengah meningkatnya ketidakpastian keamanan kawasan. Arab Saudi terus memperkuat kemampuan militernya melalui pengadaan sistem pertahanan dan persenjataan presisi, sementara Amerika Serikat berupaya mempertahankan posisi sebagai mitra keamanan utama kerajaan tersebut. Paket JDAM-ER menjadi bagian dari strategi Riyadh meningkatkan kemampuan pesawat tempurnya sekaligus menghadapi ancaman yang dinilai semakin kompleks. Tahapan berikutnya akan bergantung pada proses di Kongres serta negosiasi teknis dan komersial sebelum transaksi dapat diwujudkan sepenuhnya. Nilai akhir maupun jumlah peralatan yang benar-benar dibeli masih dapat berubah dari estimasi yang telah diumumkan. Perkembangan transaksi tersebut akan terus menjadi perhatian karena berlangsung di tengah dinamika keamanan Timur Tengah yang masih sangat tinggi.