Jakarta, 23 Mei 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mulai menyiapkan langkah modifikasi cuaca secara bertahap sebagai upaya antisipasi menghadapi potensi dampak El Nino pada musim kemarau tahun ini. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kekeringan berkepanjangan, penurunan pasokan air, hingga ancaman kebakaran hutan dan lahan yang biasanya meningkat saat fenomena El Nino terjadi. Pengamat klimatologi menjelaskan bahwa El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat memengaruhi pola curah hujan di Indonesia dan menyebabkan musim kemarau menjadi lebih panjang serta lebih kering dibanding kondisi normal. Karena itu, pemerintah mulai mempersiapkan berbagai langkah mitigasi sejak dini untuk mengurangi dampak terhadap masyarakat dan sektor ekonomi.
Menurut BMKG, modifikasi cuaca dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi atmosfer dan potensi pembentukan awan di sejumlah wilayah prioritas. Teknologi modifikasi cuaca biasanya digunakan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di daerah tertentu dengan menyemai bahan khusus ke awan potensial. Pengamat cuaca menjelaskan bahwa metode ini sering digunakan pemerintah dalam situasi tertentu seperti mengatasi kekeringan, mengurangi risiko kebakaran hutan, hingga menjaga ketersediaan air di waduk dan daerah pertanian. Meski tidak dapat sepenuhnya mengendalikan cuaca, teknologi tersebut dinilai cukup membantu dalam mendukung upaya mitigasi ketika kondisi atmosfer memungkinkan.
Ancaman El Nino sendiri menjadi perhatian serius karena dapat berdampak luas terhadap sektor pertanian, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, hingga pasokan air bersih di berbagai daerah. Pengamat pertanian menjelaskan bahwa musim kemarau panjang berpotensi menyebabkan penurunan produksi tanaman pangan akibat berkurangnya ketersediaan air untuk irigasi. Selain itu, risiko kebakaran lahan dan hutan juga meningkat di wilayah yang memiliki kawasan gambut atau daerah dengan vegetasi kering. Karena itu, koordinasi antara BMKG, pemerintah daerah, dan berbagai instansi terkait dinilai penting untuk memastikan langkah antisipasi dapat berjalan lebih efektif.
Di sisi lain, masyarakat juga diimbau mulai meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau dengan menggunakan air secara bijak dan memperhatikan potensi cuaca ekstrem yang dapat terjadi selama periode El Nino. Pengamat lingkungan menjelaskan bahwa perubahan iklim global membuat pola cuaca semakin sulit diprediksi sehingga masyarakat perlu lebih adaptif terhadap kemungkinan perubahan kondisi alam yang lebih ekstrem. Edukasi mengenai penghematan air, pencegahan kebakaran lahan, dan kesiapan menghadapi suhu panas menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibat musim kemarau panjang.
Persiapan modifikasi cuaca oleh BMKG menunjukkan bahwa pemerintah mulai mengambil langkah antisipatif menghadapi potensi dampak El Nino sejak awal musim kemarau. Pengamat kebencanaan menilai kesiapan teknologi, koordinasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat akan menjadi faktor penting dalam mengurangi risiko kekeringan dan gangguan lingkungan yang mungkin terjadi dalam beberapa bulan mendatang. Dengan langkah mitigasi yang dilakukan lebih dini, dampak El Nino diharapkan dapat ditekan sehingga aktivitas masyarakat dan sektor ekonomi tetap berjalan lebih stabil selama musim kemarau berlangsung.