Jakarta, 7 September 2026 – Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau tidak boleh dianggap sama seperti debu biasa karena dapat membawa partikel sangat halus dan sejumlah gas yang berpotensi mengganggu kesehatan. Sebagian komponen berbahaya tersebut bahkan tidak selalu dapat terlihat dengan mata atau dikenali melalui bau sehingga masyarakat tetap perlu berhati-hati meskipun kondisi udara tampak normal. Paparan dapat menimbulkan keluhan mulai dari mata merah dan berair, iritasi hidung dan tenggorokan, batuk, hingga sesak napas. Risiko dapat menjadi lebih besar pada orang yang memiliki asma maupun penyakit paru kronis lainnya. Paparan yang intens atau berlangsung lama juga menjadi perhatian karena partikel tertentu dapat mencapai saluran pernapasan. Kondisi tersebut membuat masyarakat di daerah terdampak erupsi Anak Krakatau diminta mengurangi paparan selama abu masih tersebar.
Dokter Adam Prabata mengingatkan ancaman kesehatan akibat letusan gunung berapi tidak hanya berasal dari lava atau awan panas yang dapat terlihat secara langsung. Material yang dilepaskan ke atmosfer dapat mengandung partikel dan gas yang sulit dikenali masyarakat tanpa pemantauan khusus. Abu vulkanik sendiri merupakan campuran material mineral, batuan, dan partikel menyerupai kaca yang terbentuk ketika material vulkanik terfragmentasi selama erupsi. Ukurannya dapat sangat kecil sehingga mudah terbawa angin dalam jarak jauh dari sumber letusan. Partikel berukuran halus juga lebih mudah masuk ke hidung dan saluran pernapasan ketika seseorang berada di lingkungan yang terpapar. Karena karakteristik tersebut, tidak terlihatnya abu secara jelas bukan berarti paparan sepenuhnya tidak ada.
Adam menjelaskan material hasil aktivitas vulkanik dapat berkaitan dengan berbagai gas dan senyawa, termasuk karbon dioksida, sulfur dioksida, hidrogen klorida, hidrogen sulfida, serta hidrogen fluorida. Namun, komposisi dan konsentrasi zat yang benar-benar mencapai suatu wilayah dapat berbeda bergantung pada karakter erupsi, jarak dari gunung, kondisi atmosfer, dan arah angin. Karena itu, masyarakat tidak dapat menentukan tingkat keamanan hanya berdasarkan ada atau tidaknya bau menyengat. Pemantauan kualitas udara serta informasi dari instansi resmi menjadi lebih penting ketika sebaran material vulkanik meluas. Risiko kesehatan juga bergantung pada konsentrasi material yang terhirup dan lamanya seseorang berada di lingkungan tersebut. Orang yang tinggal lebih dekat dengan sumber erupsi umumnya menghadapi situasi berbeda dibandingkan masyarakat yang berada jauh dari gunung.
Mata menjadi salah satu bagian tubuh yang mudah mengalami gangguan ketika terkena abu vulkanik. Partikel yang bersifat abrasif dapat menyebabkan mata terasa seperti kemasukan benda asing, perih, merah, dan terus mengeluarkan air mata. Pada kondisi tertentu, paparan juga dapat menyebabkan peradangan pada permukaan mata dan meningkatkan sensitivitas terhadap cahaya. Masyarakat tidak dianjurkan mengucek mata ketika abu masuk karena gesekan dapat memperparah iritasi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat membilas mata secara perlahan menggunakan air bersih apabila terkena material tersebut. Pertolongan medis perlu dicari apabila rasa sakit berat, gangguan penglihatan, atau keluhan lainnya tidak membaik setelah mata dibersihkan.
Saluran pernapasan menjadi bagian lain yang perlu mendapat perhatian karena partikel abu dapat terhirup bersama udara. Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Prof. Tjandra Yoga Aditama menjelaskan abu yang masuk ke saluran napas dapat menyebabkan batuk dan iritasi tenggorokan. Paparan juga dapat menimbulkan gangguan menyerupai bronkitis dan memperburuk kondisi orang yang sebelumnya mempunyai asma bronkial maupun penyakit paru obstruktif kronik. Pada paparan yang sangat berat, khususnya di dekat lokasi letusan dengan konsentrasi abu tinggi, gangguan pernapasan dapat menjadi jauh lebih serius. Risiko tersebut menjadi alasan masyarakat diminta tidak menunggu munculnya gejala sebelum melakukan perlindungan. Mengurangi jumlah partikel yang terhirup sejak awal merupakan langkah pencegahan yang lebih baik.
Dampak paparan jangka panjang juga perlu dilihat secara proporsional berdasarkan tingkat dan durasi paparan. Risiko penyakit paru kronis akibat debu yang mengandung silika terutama menjadi perhatian ketika seseorang menghirup konsentrasi tertentu secara berulang atau berkepanjangan. Kondisi tersebut berbeda dengan paparan singkat yang dialami sebagian masyarakat jauh dari pusat erupsi. Karena itu, munculnya abu vulkanik di suatu wilayah tidak berarti seluruh warga otomatis akan mengalami penyakit paru kronis. Faktor konsentrasi partikel, ukuran partikel, komposisi mineral, durasi paparan, penggunaan perlindungan, serta kondisi kesehatan seseorang ikut menentukan risiko. Meski demikian, prinsip pencegahan tetap penting karena paparan yang sebenarnya dapat dihindari sebaiknya diminimalkan.
Kelompok tertentu mempunyai risiko lebih tinggi mengalami masalah ketika kualitas udara memburuk akibat material vulkanik. Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis termasuk kelompok yang membutuhkan perlindungan lebih ketat. Penderita asma dapat mengalami perburukan keluhan apabila menghirup partikel yang mengiritasi saluran napas. Orang dengan penyakit paru kronis juga perlu memperhatikan perubahan seperti batuk yang semakin berat, napas berbunyi, atau sesak yang meningkat. Kementerian Kesehatan meminta kelompok rentan sebisa mungkin mengurangi aktivitas di luar selama paparan abu masih berlangsung. Obat rutin bagi penderita penyakit kronis tetap perlu digunakan sesuai petunjuk tenaga kesehatan.
Menkes Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat di daerah terdampak tetap berada di dalam rumah apabila tidak mempunyai kegiatan mendesak. Jika harus keluar, warga diminta memakai masker dan melindungi mata menggunakan kacamata. Masker dengan kemampuan filtrasi partikel yang baik seperti N95 dapat digunakan apabila tersedia dan dapat dipakai dengan benar. Pintu dan jendela rumah sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya abu, sementara makanan dan sumber air perlu dijaga dari kontaminasi. Setelah kembali dari luar rumah, tubuh dan pakaian yang terpapar sebaiknya segera dibersihkan karena partikel abu dapat menempel pada permukaannya. Abu yang berada di rumah juga perlu dibersihkan dengan hati-hati agar tidak kembali beterbangan dan terhirup.
Kementerian Kesehatan telah meningkatkan kesiapsiagaan pelayanan kesehatan menyusul meluasnya sebaran abu Anak Krakatau. Health Emergency Operating Center diaktifkan mulai tingkat pusat hingga daerah terdampak, sementara puskesmas dan rumah sakit disiagakan untuk menangani kemungkinan peningkatan keluhan kesehatan. Logistik medis yang dipersiapkan antara lain masker medis dan N95, tabung serta konsentrator oksigen, nebulizer, obat untuk gangguan pernapasan, serta obat tetes dan salep untuk mata maupun kulit. Kesiapan fasilitas tersebut terutama dibutuhkan apabila terdapat warga dengan gangguan pernapasan yang memburuk setelah terpapar. Masyarakat yang mengalami sesak berat, nyeri atau tekanan di dada, kesulitan bernapas, maupun gangguan mata berat dianjurkan segera mencari pertolongan medis. Penanganan tidak sebaiknya ditunda terutama pada bayi, anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.
Meluasnya abu Anak Krakatau menjadi pengingat bahwa bahaya material vulkanik tidak selalu mudah dikenali secara langsung oleh masyarakat. Udara yang tampak jernih atau tidak berbau bukan satu-satunya indikator untuk menentukan ada tidaknya partikel maupun gas hasil aktivitas vulkanik. Masyarakat perlu mengikuti informasi mengenai sebaran abu dan kualitas lingkungan yang dikeluarkan pemerintah serta lembaga terkait. Selama paparan masih menjadi perhatian, mengurangi aktivitas di luar, menggunakan masker, melindungi mata, menutup rumah, dan menjaga makanan serta air merupakan langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko. Warga juga diminta tidak panik dan tidak menganggap setiap keluhan kesehatan sebagai akibat abu vulkanik tanpa pemeriksaan karena gejala serupa dapat mempunyai penyebab lain. Kewaspadaan yang disertai tindakan perlindungan tepat menjadi langkah utama untuk menjaga kesehatan selama dampak erupsi Anak Krakatau masih berlangsung.