Lampung Timur, 25 Oktober 2026 – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Way Kambas, Kabupaten Lampung Timur, Provinsi Lampung, masih menjadi perhatian serius setelah sekitar 40 hektare lahan dilaporkan belum berhasil dipadamkan. Kondisi tersebut menuntut upaya penanganan secara intensif untuk mencegah api meluas ke kawasan konservasi lainnya. Petugas menghadapi tantangan dalam menjangkau sejumlah titik kebakaran yang berada di area dengan akses terbatas. Vegetasi yang mengering juga berpotensi mempercepat penyebaran api apabila kondisi cuaca tidak mendukung proses pemadaman. Penanganan kebakaran menjadi prioritas untuk melindungi ekosistem dan satwa liar yang hidup di kawasan taman nasional.
Taman Nasional Way Kambas merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia yang menjadi habitat berbagai jenis satwa dilindungi. Kawasan tersebut dikenal sebagai tempat perlindungan gajah sumatra, badak sumatra, harimau sumatra, serta beragam spesies burung dan satwa lainnya. Kebakaran lahan dapat menimbulkan ancaman terhadap keseimbangan ekosistem karena merusak vegetasi yang berfungsi sebagai sumber makanan dan tempat berlindung satwa. Asap yang dihasilkan juga berpotensi mengganggu kondisi lingkungan dan aktivitas pengawasan kawasan konservasi. Oleh karena itu, pengendalian kebakaran menjadi langkah penting dalam menjaga kelestarian keanekaragaman hayati Way Kambas.
Proses pemadaman kebakaran hutan di kawasan konservasi memiliki tantangan tersendiri dibandingkan penanganan kebakaran di wilayah permukiman. Petugas perlu memperhitungkan kondisi medan, ketersediaan sumber air, serta keamanan personel yang bekerja di sekitar titik api. Pada area yang sulit dijangkau kendaraan, pemadaman sering kali membutuhkan peralatan portabel dan pengerahan personel secara langsung. Selain memadamkan api yang terlihat di permukaan, petugas juga perlu memastikan tidak terdapat bara yang berpotensi memicu kebakaran kembali. Langkah tersebut penting untuk mengurangi risiko munculnya titik api baru setelah proses pemadaman awal dilakukan.
Kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keberhasilan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Suhu tinggi, rendahnya kelembapan, serta hembusan angin dapat menyebabkan api lebih cepat menjalar melalui rumput dan semak yang mengering. Perubahan arah angin juga berpotensi menyulitkan petugas dalam menentukan jalur pemadaman yang aman. Karena itu, pemantauan kondisi meteorologi diperlukan untuk mendukung pengambilan keputusan selama operasi berlangsung. Strategi pemadaman harus disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan agar penyebaran api dapat ditekan secara efektif.
Berdasarkan laporan penanganan terbaru, kebakaran di Way Kambas telah berlangsung sejak 22 September 2026. Tim gabungan berhasil memadamkan area seluas sekitar 10,2 hektare pada Jumat (23/10/2026), tetapi masih terdapat sekitar 40 hektare lahan yang membutuhkan penanganan. Kepala BNPB Letjen TNI Kristomei Sianturi melakukan peninjauan udara pada Sabtu (24/10/2026) untuk memantau perkembangan titik api. Hasil pemantauan menunjukkan masih adanya asap tebal di sejumlah lokasi. Kondisi tersebut menjadi dasar untuk memperkuat koordinasi dan menentukan prioritas pemadaman.
BNPB
+1
Upaya pemadaman dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara dengan melibatkan berbagai unsur terkait. Helikopter Sikorsky Black Hawk UH-60L dikerahkan untuk melakukan dua penerbangan pemadaman menggunakan metode water bombing. Sementara itu, personel darat dibagi menjadi empat tim dengan tugas pemantauan menggunakan drone, pemadaman di kawasan rawa, serta distribusi air menuju titik kebakaran. Petugas juga memasang jaringan selang sepanjang sekitar tiga kilometer untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses. Kerja sama antara tim udara dan darat diperlukan karena sebagian air yang dijatuhkan dari helikopter terhalang vegetasi rapat sebelum mencapai permukaan lahan.
tirto.id
+1
Keterbatasan sumber air menjadi salah satu hambatan utama dalam operasi pemadaman. Pada sejumlah lokasi, sumber air berada sekitar 1,5 kilometer dari titik api sehingga petugas harus menyiapkan sistem distribusi menggunakan pompa dan selang tambahan. Kondisi lahan rawa juga membutuhkan penanganan khusus karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan meskipun kobaran di bagian atas telah berkurang. Pengawasan lanjutan diperlukan untuk memastikan area yang telah ditangani tidak kembali terbakar. Selain itu, petugas harus tetap memperhatikan keselamatan personel selama bekerja di tengah asap dan medan yang sulit.
Liputan6.com
+1
Penanganan kebakaran Way Kambas membutuhkan koordinasi berkelanjutan antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, pengelola kawasan konservasi, dan masyarakat. Prioritas utama adalah memadamkan seluruh titik api, mencegah perluasan kebakaran, serta menjaga keselamatan petugas dan satwa liar. Pemantauan menggunakan drone dan patroli lapangan perlu terus dilakukan untuk mendeteksi potensi kebakaran susulan. Evaluasi kondisi cuaca dan ketersediaan air juga menjadi bagian penting dalam menentukan strategi operasi berikutnya. Dengan penguatan penanganan darat dan udara, kebakaran di kawasan konservasi tersebut diharapkan dapat segera dikendalikan sepenuhnya.